Gagasan masjid peradaban pertama kali dipopulerkan oleh Muhammad Jazir, takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Masjid ini kini menjadi fenomena, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional. Salah satu ciri khasnya adalah penerapan prinsip saldo kas nol setiap bulan, yang menunjukkan tingginya kepercayaan jamaah serta optimalnya distribusi dana untuk kemaslahatan umat.
Masjid peradaban—atau masjid multifungsi—tidak sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan umat. Ia menjadi pusat kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.
Saat ini, banyak masjid di berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara, mulai mengadopsi manajemen Masjid Jogokariyan. Bagi masjid yang murni milik masyarakat, konsep ini sangat relevan untuk diterapkan agar masjid menjadi makmur—baik dari sisi jamaah, kegiatan, maupun perannya dalam membantu menyelesaikan persoalan umat.
Namun, kondisi ini berbeda dengan masjid milik pemerintah daerah Lampung Utara, seperti Islamic Centre. Secara umum, pengelolaan masjid jenis ini cenderung berada dalam kendali penuh pemerintah. Hal ini terlihat dari kondisi fisik bangunan yang hampir tidak mengalami perubahan sejak pertama kali diresmikan. Tidak ada penyesuaian signifikan terhadap kebutuhan jamaah seiring berjalannya waktu.
Berbeda dengan masjid berbasis masyarakat yang terus berbenah—diperluas ketika sempit, dipercantik ketika kurang menarik, dan diperbaiki ketika rusak—masjid Islamic Centre seringkali stagnan.
Pembangunan fisik biasanya dilakukan hingga selesai, lalu diserahkan kepada masyarakat sebatas sebagai tempat ibadah. Sementara itu, urusan perawatan dan operasional telah dianggarkan oleh pemerintah setiap tahun. Sayangnya, karena pemerintah bukan pengguna langsung masjid seperti jamaah, seringkali kebutuhan riil jamaah kurang terakomodasi. Di sisi lain, jamaah pun cenderung bersikap pasif, merasa bahwa masjid tersebut adalah milik pemerintah sehingga tidak perlu ikut berkontribusi. Padahal, selagi tidak merusak bangunan utama, pengembangan fasilitas untuk kenyamanan jamaah sejatinya memungkinkan.
Kondisi ini juga pernah dialami oleh Islamic Centre Kotabumi. Dalam kurun waktu yang cukup lama, masjid ini sempat mengalami masa-masa kurang baik: kurang terawat, ruang shalat panas, karpet tidak layak, toilet sempit dan tidak nyaman bahkan lingkungan sekitar area Islamic rawan disalahgunakan.
Namun, alhamdulillah, kondisi tersebut kini mulai berubah. Masjid Baitul Abidin Islamic Centre terus berbenah secara mandiri. Keletihan dalam berharap akhirnya mendorong lahirnya kemandirian. Konsep masjid peradaban mulai dijalankan secara bertahap.
Kini, masjid dibuka 24 jam. Berbagai fasilitas pelayanan jamaah mulai disediakan, seperti dapur umum, tempat istirahat bagi musafir, serta area lesehan yang nyaman untuk berkumpul, berdialog, hingga kegiatan santai seperti ngopi bersama. Kegiatan dakwah pun terus digiatkan, bahkan hampir setiap malam.
Seluruh program tersebut berjalan dengan biaya operasional yang bersumber dari donasi infak dan sedekah jamaah. Namun, tantangan besar masih ada: keterbatasan dana. Hingga saat ini, belum ada donatur tetap. Upaya untuk menghadirkan donatur sebenarnya telah dilakukan sejak lama, tetapi terkendala oleh paradigma masyarakat yang menganggap bahwa masjid Islamic Centre telah memiliki anggaran dari pemerintah.
Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, karena memang pada umumnya demikian. Namun, realitas di Islamic Centre Kotabumi berbeda. Bahkan, jika
Masjid Jogokariyan Yogyakarta dikenal dengan prinsipnya yang luar biasa: saldo kas harus nol setiap bulan. Artinya, setiap dana yang masuk segera disalurkan untuk kemaslahatan umat. Prinsip ini menunjukkan betapa masjid benar-benar hidup, aktif, dan menjadi pusat peradaban.
Berbeda dengan kondisi Masjid Islamic Centre Kotabumi, yang hingga saat ini justru sering mengalami saldo minus. Hal ini terjadi karena biaya operasional kegiatan dan perawatan masjid sepenuhnya bergantung pada infak, sedekah, dan bahkan utangan.
Selama lebih dari 10 tahun berjalan, belum ada donatur besar yang secara signifikan berkontribusi untuk menopang keberlangsungan masjid ini. Bahkan untuk menutup kebutuhan dasar, utang belasan juta rupiah pun harus diangsur berbulan-bulan, bahkan hingga tahunan menjadi gambaran nyata bahwa masjid masih berjuang, bukan karena tidak ada aktivitas, tetapi karena minimnya dukungan.
Namun di balik keterbatasan ini, kami atas nama Dewan Kemakmuran Masjid Baitul Abidin Islamic Centre Kotabumi memberikan apresiasi yang besar kepada jama’ah yang telah berkontribusi donasi infaq shodaqoh dan juga bagi yang telah memberikan utangan dengan keutamaan pahala yang besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa memberi pinjaman kepada orang lain dua kali, maka ia seperti bersedekah satu kali. Dan tidaklah seorang muslim memberi pinjaman kepada muslim lainnya, kecuali akan dicatat baginya pahala sedekah setiap hari sampai pinjaman itu dibayar.”
(HR. Ibnu Majah)
Dalam hadits lain, beliau ﷺ juga bersabda:
“Aku melihat pada malam Isra’, tertulis di pintu surga: sedekah dilipatgandakan sepuluh kali lipat, dan pinjaman dilipatgandakan delapan belas kali lipat.” (HR. Ibnu Majah)
Hadits ini menunjukkan bahwa memberi pinjaman (qardh hasan) adalah amal yang sangat mulia. Bahkan, selama utang tersebut belum dilunasi, pahalanya terus mengalir setiap hari.
Terlebih lagi jika pinjaman itu diberikan untuk menopang rumah Allah—tempat ibadah umat—maka insyaAllah nilainya jauh lebih besar di sisi-Nya.
Semoga infak, sedekah, dan juga pinjaman yang telah diberikan kepada masjid ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Dan khusus bagi yang telah membantu dalam bentuk utangan, semoga Allah melipatgandakan balasan dengan pahala yang terus dicatat sebagai pahala sedekah setiap hari hingga utang tersebut lunas.
Kami dari DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Baitul Abidin Islamic Centre Kotabumi juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz yang telah berkontribusi menyampaikan ilmunya kepada jamaah.
Jazakumullahu khairan katsiran.
Kami juga memohon maaf karena hingga saat ini belum mampu memberikan bantuan, bahkan sekadar pengganti transport, dikarenakan kondisi kas masjid yang belum memungkinkan. Besar harapan kami agar para ustadz sebagai narasumber kajian rutin masjid islamic centre Kotabumi tetap semangat dan istiqamah mengisi kajian rutin yang telah dijadwalkan.
Alhamdulillah walaupun dalam perjalanan perjuangan memakmurkan masjid masih banyak kendala tapi semangat untuk memakmurkan masjid tidak pernah padam. Kini, nama Islamic Centre Kotabumi mulai dikenal luas. Inilah bukti bahwa ketika masjid dikelola dengan semangat pelayanan dan kepedulian, ia mampu bangkit—meskipun di tengah keterbatasan dan tantangan status quo.
Penulis : Lukman Hakim (Marbot Masjid Baitul Abidin Islamic Centre Lampung Utara)







