BANDAR LAMPUNG-Kabar dua siswa SD yang berhenti sekolah gegara faktor ekonomi telah mencoreng muka Pemerintah Kota Bandarlampung, khususnya Dinas Pendidikan yang bisa dikatakan gagal alias belum berhasil melaksanakan program wajib belajar 9 tahun.
Meski kegagalan itu telah disapu dengan ‘Drama’ kunjungan oleh dinas terkait tetap saja mencoreng muka dunia pendidikan di kota yang kita cintai ini.
Drama itu diduga berbau tekanan sehingga orang tua siswa bernama Aris dan Apridasari harus mengubah keterangan setelah rumahnya dikunjungi aparat kelurahan dan dinas pendidikan.
Ibunya tiba-tiba kemudian membantah bahwa anaknya putus sekolah bukan lantaran pungutan yang macam-macam, tetapi melainkan lantaran kondisi ekonomi rumah tangga yang tak karuan.
Seperti dilaporkan banyak media sebelum kejadian drama kunjungan, Si Ibu mengatakan bahwa anak nya putus sekolah lantaran tidak mampu membayar uang komite dan uang bayaran bulanan.
Keterangan ibu itu viral hingga mengundang aparatur Kelurahan setempat,Disdik dan Dinas Sosial Bandar Lampung untuk cepat-cepat meluruskan pemberitaan tersebut.
Keterangan Si Ibu itu berujung menyalahkan media online yang dituding salah dalam mengutip keterangan.Dapat dimaklumi, Si Ibu mungkin tertekan setelah drama kunjungan itu.
Seolah tak mau di salahkan dengan kejadian ini,”ini ucapan PLT Kabid Disdik Kota Bandar Lampung,”Mulyadi juga menyesalkan atas pemberitaan yang berkembang menyangkut putusnya sekolah pada dua kakak beradik tersebut. Ia berharap pemberitaan yang tidak benar tersebut tidak kembali terulang di dunia pendidikan khususnya Kota Bandar Lampung.
“Ada-ada saja pemberitaan ini. Pemerintah Kota Bandar Lampung tidak mungkin membiarkan anak untuk putus sekolah karena pemerintah sudah berkomitmen dan menjamin anak usia sekolah harus bersekolah,” kata dia.
Dan para jurnalis yang baik hati mungkin bisa memahami Tapi bagaimana dengan nasib dua anak ini, apakah keduanya bisa sekolah besok Senin ini? (Zld)







