Alih-Alih Beri Penjelasan, TAPD Lampura Kompak Bungkam Soal Penundaan 24 Paket Infrastruktur

banner 468x60

Lampung Utara : Sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Lampung Utara yang masuk dalam Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) kompak memilih bungkam terkait ditundanya pelaksanaan 24 paket kegiatan Tahun 2026 di Dinas SBABMBK senilai Rp. 27,1 Miliar.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Utara, Intji Indriati, saat ditanyai alasan penundaan 24 paket tersebut dan alasan TAPD meloloskan anggaran 24 paket tersebut dalam APBD 2026, diam seribu bahasa. Pesan WhatsApp yang dikirim lampungtoday.com sejak tanggal 31 Maret 2026 hingga berita ini diturunkan tidak ada respon sama sekali.

Bacaan Lainnya

Assisten III Pemerintah Kabupaten Lampung Utara membidangi Administrasi Umum, Dina Prawitarini, pun memilih sikap yang sama, menolak mengomentari persoalan ini.

” Ke pimpinan aja ya (notabene Sekda, Bupati dan Wakil Bupati),” Katanya singkat, Rabu (1/4/2026).

Senada, Kepala Bidang Anggaran BPKAD Lampung Utara, Ali Muhajir, menyarankan agar langsung ke Plt. Kepala BPKAD.

” Saya akan bersuara (komentari), ketika ada perintah pimpinan,” ucapnya.

Sikap sama juga ditunjukkan, Plt. Kepala BPKAD Lampung Utara, Iskandar Helmi. Ia enggan mengomentari persoalan tersebut.

” Jangan dululah ya. Saya akan berkoordinasi terlebih dahulu ke Bu Sekda,” katanya.

Ada apa? Sikap bungkam sejumlah pejabat di tengah sorotan publik memunculkan kesan kuat adanya dugaan kongkalikong dalam prosedur pengalokasian anggaran 24 paket tersebut di APBD 2026.
Padahal publik ingin tahu, alasan dibalik penundaan pelaksanaan 24 paket yang diperuntukkan pembangunan infrastruktur. Pemerintah tadinya menggebu-gebu menggelar pelaksanaan kegiatan tersebut diawal tahun 2026. Namun, setelah menimbulkan reaksi berbagai pihak hal itu pun akhirnya gagal terwujud.

‎Alih-alih tampil memberikan penjelasan yang substansial, sebagian pejabat justru lebih sering terlihat aktif dalam agenda seremonial, sekedar pencitraankah? Senyum di depan kamera, unggahan media sosial, serta narasi keberhasilan terus diproduksi dan disebarluaskan, sementara persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dibiarkan tanpa kejelasan.

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses