Gandeng PWI Lampung Selatan, DEMA STAI Yasba Gelar Pelatihan Jurnalistik untuk Pengurus Organisasi

banner 468x60

LAMPUNGTODAY, KALIANDA – Kemampuan jurnalistik kini tidak lagi dipandang sebagai keterampilan tambahan bagi mahasiswa, melainkan kebutuhan penting dalam membangun kepemimpinan, menyampaikan gagasan, serta menggerakkan perubahan sosial di era digital.

Berangkat dari semangat tersebut, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAI Yasba Kalianda memasukkan materi jurnalistik sebagai salah satu agenda utama dalam Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) tahun ini.

Bacaan Lainnya

Mengusung tema “Terbinanya Mahasiswa yang Kritis, Berintegritas, dan Berjiwa Kepemimpinan sebagai Agen Perubahan dan Penggerak Organisasi”, kegiatan ini diharapkan mampu mencetak kader mahasiswa yang tidak hanya aktif di organisasi, tetapi juga piawai mengelola informasi secara bertanggung jawab.

Ketua Dema STAI YASBA, Dela Yunita menjelaskan, mahasiswa sebagai agen perubahan, dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis sekaligus keterampilan menyampaikan informasi yang benar, menarik, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

 

“Jurnalistik menjadi sarana penting bagi mahasiswa untuk mendokumentasikan kegiatan organisasi, menyampaikan aspirasi, hingga membangun citra positif lembaga melalui berbagai platform media,” ungkap Dela, Sabtu, 27 Juni 2026.

Menurutnya, Materi jurnalistik pada LDK DEMA STAI Yasba, menghadirkan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung Selatan yang diwakili Wakil Ketua Pendidikan, Yuda Pranata, S.P, M.M sebagai narasumber utama.

“Kegiatannya berlangsung di Aula Bagus Burhan, Kampus STAI Yasba Kalianda,” ucapnya.

Dela menilai, penguasaan jurnalistik akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi derasnya arus informasi digital.

Di tengah maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi, mahasiswa dituntut mampu melakukan verifikasi, menyampaikan fakta secara objektif, serta menjaga etika komunikasi publik.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap peserta memahami konsep dasar jurnalistik dan mampu menerapkannya dalam aktivitas organisasi kemahasiswaan. Indikator keberhasilan yang ditetapkan antara lain kemampuan mengumpulkan informasi melalui observasi dan wawancara, menyusun berita sederhana dengan prinsip 5W+1H, serta menghasilkan konten publikasi yang informatif dan menarik,” bebernya.

Sementara, Wakabid Pendidikan PWI Lampung Selatan, Yuda Pranata, S.P., M.M., menyiapkan metode pembelajaran yang tidak hanya berupa ceramah, tetapi juga diskusi interaktif, sesi tanya jawab, hingga praktik langsung wawancara, menulis berita dan membuat konten publikasi organisasi.

“Materi yang diberikan mencakup pengenalan dasar-dasar jurnalistik dan perannya bagi mahasiswa, teknik mencari serta mengumpulkan informasi, keterampilan wawancara dan observasi, hingga teknik penulisan berita menggunakan kaidah 5W+1H,” ungkap Yuda.

Kepala Biro Radar Lampung di Lampung Selatan ini menjelaskan, para peserta dibekali pemahaman mengenai bahasa jurnalistik yang efektif, etika bermedia, serta strategi publikasi organisasi melalui media sosial.

Tak hanya itu, aspek etika menjadi perhatian utama. Peserta didorong untuk memahami tanggung jawab moral dalam menyebarkan informasi, sehingga setiap publikasi organisasi dapat memberikan manfaat dan tidak menimbulkan dampak negatif di tengah masyarakat.

Yuda menilai kemampuan jurnalistik menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan era digital yang dipenuhi arus informasi tanpa batas.

Menurutnya, mahasiswa sebagai agen perubahan harus mampu menjadi produsen informasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab, bukan sekadar menjadi konsumen media sosial.

“Jurnalistik mengajarkan mahasiswa untuk berpikir sistematis, melakukan verifikasi, menghargai fakta, serta menyampaikan informasi secara objektif. Keterampilan ini sangat dibutuhkan dalam membangun karakter kepemimpinan yang berintegritas,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Redaktur Pelaksana media Radar Lampung ini.

Ia menambahkan, organisasi kemahasiswaan saat ini dituntut mampu mengelola publikasi secara profesional agar berbagai kegiatan, gagasan, dan aspirasi mahasiswa dapat tersampaikan kepada masyarakat dengan baik.

“Di tengah maraknya hoaks dan disinformasi, mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi yang benar dan mencerahkan. Karena itu, materi jurnalistik dalam LDK bukan sekadar belajar menulis berita, tetapi juga membentuk etika, tanggung jawab, dan kemampuan literasi digital,” katanya.

Yuda berharap para peserta LDK DEMA STAI Yasba Kalianda dapat memanfaatkan pelatihan tersebut untuk meningkatkan kemampuan observasi, wawancara, penulisan, serta pemanfaatan media digital sebagai sarana dakwah, edukasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Saya berharap lahir kader-kader mahasiswa yang tidak hanya kritis dalam berpikir dan kuat dalam memimpin, tetapi juga mampu menjadi komunikator publik yang santun, kreatif, dan menjunjung tinggi kebenaran. Itulah esensi jurnalistik yang sesungguhnya,” pungkasnya. (Ko)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses