BANDAR LAMPUNG—(LT)—Penguatan pendidikan karakter menjadi salah satu aspek penting dalam membangun peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki nilai moral, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Sebagai upaya mendukung hal tersebut, kegiatan pelatihan Model Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Integratif Moral dilaksanakan bagi guru Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk meningkatkan kemampuan dalam mengintegrasikan nilai karakter ke dalam proses pembelajaran.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMAS Perintis 1 Kota Bandar Lampung dengan melibatkan sebanyak 47 guru sebagai peserta.
Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam menerapkan model penguatan pendidikan karakter berbasis integratif moral melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan, workshop, simulasi pembelajaran, pendampingan, dan evaluasi.
Tim pengabdian mengangkat pendekatan integratif moral karena pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori atau nasihat, tetapi perlu diwujudkan melalui pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik memahami, menghayati, dan menerapkan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan pelatihan, guru mendapatkan penguatan mengenai konsep pendidikan karakter, perkembangan moral, serta strategi mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam tujuan pembelajaran, materi, aktivitas belajar, hingga asesmen pembelajaran.
Dalam pelaksanaannya, guru tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mengikuti workshop penyusunan perangkat pembelajaran berbasis integratif moral.
Guru didampingi untuk mengembangkan modul ajar, bahan ajar, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), media pembelajaran, serta instrumen penilaian karakter yang sesuai dengan mata pelajaran masing-masing.
Nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab, kedisiplinan, kejujuran, kerja sama, dan sikap saling menghargai diintegrasikan ke dalam berbagai komponen pembelajaran.
Melalui kegiatan tersebut, guru memperoleh pengalaman dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik.
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru setelah mengikuti pelatihan. Berdasarkan hasil pretest dan posttest, nilai rata-rata pemahaman peserta meningkat dari 2,90 menjadi 3,16, atau mengalami peningkatan sebesar 0,26 poin (8,97%).
Selain peningkatan pemahaman, kegiatan ini juga menghasilkan perangkat pembelajaran yang telah mengintegrasikan nilai karakter ke dalam tujuan pembelajaran, aktivitas peserta didik, serta instrumen asesmen.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya memberikan peningkatan pengetahuan, tetapi juga mendukung keterampilan guru dalam merancang pembelajaran berbasis karakter.
Ketua tim pengabdian menyampaikan bahwa penerapan pendidikan karakter membutuhkan keterlibatan aktif guru sebagai penggerak utama di kelas. Melalui model integratif moral, guru diarahkan untuk menghubungkan aspek moral knowing (pemahaman moral), moral feeling (penghayatan moral), dan moral action (tindakan moral) dalam proses pembelajaran.
Ke depan, keberlanjutan program diarahkan melalui pendampingan lanjutan agar model penguatan pendidikan karakter berbasis integratif moral dapat diterapkan secara konsisten dalam berbagai mata pelajaran.
Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan selama pelatihan diharapkan menjadi dasar bagi sekolah dalam memperkuat budaya karakter secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, perguruan tinggi dan sekolah berkolaborasi dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mencetak peserta didik berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, berintegritas, dan mampu menerapkan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.(red)







