Sayap Persaudaraan di Langit Kalianda

banner 468x60

Lampung Selatan, Lampungtoday – Angin laut berhembus dari arah Pantai Kedu dan Pantai Pelangi. Bau asin bercampur harum pasir basah memenuhi udara, sementara di kejauhan, suara riuh penonton menyeruak, kadang pecah dalam sorak, kadang larut dalam tawa.

Di sinilah, di Lapak Merpati Kolong Kalianda—akrab disebut Lapak KPK—puluhan pecinta burung merpati berkumpul. Bukan sekadar lomba yang mengikat langkah mereka, melainkan sebuah ritual kebersamaan yang seakan menyalakan semangat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80.

Bacaan Lainnya

Selama empat hari penuh, lapak sederhana di tepi pantai itu menjelma jadi arena yang istimewa. Sekitar 40 peserta dari berbagai penjuru Lampung Selatan hadir dengan semangat membara. Burung-burung dibawa dalam sangkar, dengan mata yang awas dan bulu yang berkilau di bawah cahaya matahari.

Hari-Hari di Lapak

Dua hari pertama menjadi masa pengenalan. Lapak ini bukan hanya sekadar panggung lomba, melainkan juga rumah sementara, tempat peserta saling sapa, saling berbagi kisah, hingga saling menepuk bahu dengan hangat. Ada yang datang membawa merpati sejak turun-temurun dipelihara, ada pula yang baru merintis, belajar memahami isyarat sayap dan tatapan mata burung kecil itu.

Hari ketiga, denyut jantung terasa kian kencang. Perang Bintang digelar—sebuah laga yang penuh ketegangan. Burung-burung melesat ke udara, membelah langit, menantang arah angin. Sorak penonton meledak tiap kali seekor merpati menukik tajam, berpacu menuju kolong. Ketajaman insting burung berpadu dengan kecermatan sang joki, menjadikan setiap detik seolah tarian antara manusia, hewan, dan alam.

Sayap-Sayap Pemenang

Nama Soimah, merpati milik Tim Mochi Kalianda, menjadi buah bibir sore itu. Dengan kepakan yang ringan namun terarah, ia melesat, menorehkan kemenangan gemilang. Disusul oleh Hipersonic, andalan Tim Hurahura Candipuro, yang tak kalah menawan dan mengundang tepuk tangan panjang.

Namun semua tahu, ini bukan sekadar lomba siapa menang siapa kalah. “Yang kita kejar adalah kebersamaan, bukan sekadar piala,” ujar seorang peserta sambil menepuk pundak lawannya yang kini telah menjadi sahabat.

Suara dari Panitia

Puncak kegiatan berlangsung di hari keempat, saat lomba utama digelar. Wajah-wajah serius menghiasi lapangan, tapi di sela itu, tawa tetap mewarnai. Anak-anak kecil berlarian, penjual es dan makanan berkeliling, dan di atas segalanya, merpati-merpati terus mengukir jejak di langit biru.

Ketua Pelaksana, Izal Astrada, didampingi wakilnya Eric Reza Aulia, menegaskan makna acara ini.

“Tujuannya sederhana,” ujarnya, “mempererat tali silaturahmi antar pemain se-Lampung Selatan sekaligus memperkenalkan wisata pantai Kalianda dan sekitarnya. Di sinilah kebersamaan dan kecintaan pada merpati kolong bertemu.”

Ada pula harapan yang lebih besar:

“Diharapkan pemerintah turut serta dan mendukung kegiatan ini, mengingat lomba merpati kolong telah merata di seluruh Indonesia. Bahkan pada hari yang sama, digelar pula lomba nasional di Lapak Gondosari Silirejo dengan total hadiah mencapai satu miliar rupiah,” tambah Izal.

Antara Ombak dan Sayap

Di bawah langit yang mulai merona jingga, suara debur ombak bersahut dengan kepak sayap merpati. Penonton perlahan beranjak, namun semangat silaturahmi tetap mengendap dalam hati mereka.

Kalianda sore itu menjadi saksi: burung-burung bukan hanya hewan lomba, melainkan jembatan persaudaraan. Lapak KPK tak hanya melahirkan juara, tetapi juga menumbuhkan persahabatan, cinta pada hobi, dan penghormatan pada alam yang menawan.

Dan ketika senja turun, bayangan merpati yang kembali ke sangkar seakan menyimpan janji: bahwa sayap-sayap persaudaraan akan selalu menemukan jalannya, di atas pantai, di bawah langit, di hati setiap pecinta merpati. (Red)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses